ASAL-USUL FLAFONOID
Pola biosintesis
flavonoid pertama kali diusulkan oleh Birch, yang menjelaskan bahwa tahap
pertama biosintesis flavonoid suatu unit C6 – C3 berkombinasi dengan 3 unit C2
menghasilkan unit C6 – C3 – (C2+C2+C2). kerangka c15 yang dihasilkan dari
kombinasi unit mengandung gugus-gugus fungsi oksigen pada posisi-posisi yang
diperlukan. Adapun cincin A dari struktur flavonoid berasal dari jalur
poliketida, yakni kondensasi dari tiga unit asetat atau malonat, sedangkan
cincin B dan tiga atom karbon dari rantai propan berasal dari jalur
fenilpropanoid (jalur sikimat). Berdasarkan atas usul tersebut maka biosintesis
dari flavonoid melalui 2 jalur bisosintesis yaitu poliketida (asam asetat atau
mevalonat) dalam membentuk cincin A berkondensasi 3 molekul unit asetat, sedang
cincin B dan tiga atom karbon dari rantai propana berasal dari jalur
fenilpropana (shikimat). Flavonoid adalah senyawa polifenol yang memiliki 15
atom karbon, dua cincin benzena bergabung dengan rantai karbon tiga linier.
STRUKTUR
FLAFONOID
Flavonoid
merupakan salah satu kelompok senyawa metabolit sekunder yang paling banyak
ditemukan di dalam jaringan tanaman (Rajalakshmi dan S. Narasimhan, 1985).
Flavonoid termasuk dalam golongan senyawa phenolik dengan struktur kimia C6-C3-C6
(White dan Y. Xing, 1951; Madhavi et al., 1985; Maslarova, 2001) (Gambar 1).
Kerangka flavonoid terdiri atas satu cincin aromatik A, satu cincin aromatik B,
dan cincin tengah berupa heterosiklik yang mengandung oksigen dan bentuk
teroksidasi cincin ini dijadikan dasar pembagian flavonoid ke dalam sub-sub
kelompoknya (Hess, tt). Sistem penomoran digunakan untuk membedakan posisi
karbon di sekitar molekulnya (Cook dan S. Samman, 1996).
Berbagai
jenis senyawa, kandungan dan aktivitas antioksidatif flavonoid sebagai salah
satu kelompok antioksidan alami yang terdapat pada sereal, sayursayuran dan
buah, telah banyak dipublikasikan. Flavonoid berperan sebagai antioksidan
dengan cara mendonasikan atom hidrogennya atau melalui kemampuannya mengkelat
logam, berada dalam bentuk glukosida (mengandung rantai samping glukosa) atau
dalam bentuk bebas yang disebut aglikon (Cuppett et al.,1954).
ISOLASI
FLAVONOID
Rimpang
temu ireng sebanyak 1 g dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambah etanol 25 mL,
kemudian dipanaskan sampai mendidih dan dilanjutkan dengan penyaringan. Filtrat
yang diperoleh diuapkan, sampai volume pelarut tinggal setengahnya. Adanya
flavonoid diuji dengan Shinoda Tes. Tahap selanjutnya adalah mengangin-anginkan
rimpang temu ireng pada suhu kamar sampai kering. Rimpang kering dihaluskan,
kemudian dimasukkan ke dalam alat ekstraktor Soxhlet. Ekstraksi dilakukan
secara berturutan menggunakan pelarut petroleum eter, kloroform, n-butanol dan
metanol masing-masing selama 8 jam. Hasil ekstraksi berupa ekstrak petroleum
eter, kloroform, n-butanol dan metanol masing-masing dilakukan uji warna untuk
flavonoid.
Ekstrak
yang positif mengandung flavonoid kernudian ditentukan eluen yang sesuai untuk
langkah selanjutnya yaitu kromatografi kolom. Penentuan eluen pada ekstrak
petroleum eter (PE) dilakukan dengan menggunakan eluen PE- kloroform pada
berbagai perbandingan volume. Untuk ekstrak kloroform, eluen yang digunakan
adalah kloroform-etil asetat pada berbagai perbandingan volume. Sedangkan pada
ekstrak n- butanol digunakan eluen etil asetat-metanol pada berbagai
perbandingan volume. Ekstrak metanol tidak dicari eluen yang sesuai. Persiapan
pertama kromatografi kolom adalah memanaskan silika gel pada suhu 1600C selama
3 jam kemudian didinginkan. Setelah dingin, silika dibuat bubur dan dimasukkan
dalam kolom, lalu dibiarkan semalam.
Ekstrak
pekat dilarutkan dalam eluen yang kurang polar dan dimasukkan kolom menggunakan
pipet. Sampel dibiarkan turun sampai permukaan- nya hampir “terbuka”, kemudian
ditambah eluen pelan-pelan sampai mendapat eluen yang tidak berwarna pada
permukaan penyerap. Langkah selanjutnya ditambah eluen, dengan laju elusi 20
tetes/menit. Setiap 2 mL eluat, ditampung dalam botol sampel. Untuk pembagian
fraksi, masing-masing botol dianalisis secara fisika menggunakan sinar
UV-VIS = 366 nm dan TLC, sertal
= 254 nm dan lpada secara kimia menggunakan uji warna. Fraksi
tunggal yang mempunyai harga Rf sama dan uji fisika serta kimia sama
dikumpulkan, dan pelarutnya diuapkan. Selanjutnya dilakukan identifikasi
struktur untuk menggunakan spektrofotometer UV-VIS, IR dan GC-MS.
SKRINING FITOKIMIA DAN
PEGENALAN FLAVONOID
Sebanyak 3 mL sampel
diuapkan, dicuci dengan heksana sampai jernih. Residu dilarutkan dalam 20 mL
etanol kemudian disaring. Filtrat dibagi 4 bagian A, B, dan C. Filtrat A
sebagai blangko, filtrat B ditambahkan 0,5 mL HCl pekat kemudian dipanaskan
pada penangas air, jika terjadi perubahan warna merah tua sampai ungu
menunjukkan hasil yang positif (metode Bate Smith-Metchalf). Filtrat C
ditambahkan 0,5 mL HCl dan logam Mg kemudian diamati perubahan warna yang
terjadi (metode Wilstater). Warna merah sampai jingga diberikan oleh senyawa flavon,
warna merah tua diberikan oleh flavonol atau flavonon, warna hijau sampai biru
diberikan oleh aglikon atau glikosida. Filtrat D digunakan untuk uji KLT
Beberapa hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif antara asupan flavonoid
dengan resiko munculnya penyakit jantung koroner. Efek kardioprotektif
flavonoid sebagai sumber diet telah ditinjau oleh Cook dan S. Samman (1996).
Antioksidan alami seperti flavonoid yang banyak terdapat pada minuman dan buah
anggur, diketahui memiliki kontribusi dalam menghambat oksidasi LDL (low
density lipoprotein) secara ex-vivo (Kanner et al., 1994).
Produk oksidatif LDL
dapat menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah koroner. Tampaknya
aktivitas minuman anggur dalam melindungi LDL manusia dari oksidasi
terdistribusi cukup luas diantara komponen-komponen phenolik utamanya (Frankel
et al., 1995). Kemudian dengan menggunakan Model Oksidasi in Vitro untuk
Penyakit Jantung ( in Vitro Oxidation Model for Heart Desease) diketahui bahwa
isoflavon ganeistein dan flavonone hesperetin menunjukkan aktivitas antioksidan
terikat-lipoprotein (IC50) yang lebih tinggi dari tokoferol (Vinson et
al.,1995). Pada metode yang sama, senyawa flavonol yang terdapat
dalam teh diketahui bersifat sebagai antioksidan yang kuat(Vinsonet al., 1995).
Permasalahan
1. Apakah peranan penting flavonoid sebagai
antioksidan ?
2. Apakah
efek biologis yang dimiliki flavonoid
3. Mengapa
untuk identifikasi awal flafonoid dapat digunakan pereaksi FeC13?
Saya ingin menanggapi permasalahan pertama, dimana apakah peran penting dari senyawa flavonoid sebagai antioksidan? menurut yang saya baca, bahwa Flavonoid dikatakan antioksidan karena dapat menangkap radikal bebas dengan membebaskan atom hidrogen dari gugus hidroksilnya. Aksi radikal memberikan efek timbulnya berbagai penyakit yang berbahaya bagi tubuh. Tubuh manusia tidak mempunyai sistem pertahanan antioksidatif yang lebih sehingga apabila terkena radikal bebas yang tinggi dan berlebih, tubuh tidak dapat menanggulanginya. Saat itulah tubuh manusia membutuhkan antioksidan dari luar (eksogen) yang dapat dilakukan dengan asupan senyawa yang memiliki kandungan antioksidan yang tinggi melalui suplemen, makanan, dan minuman yang dikonsumsi. sehingga inilah salah satu peran pentingnya
BalasHapussaya ingin menanggapi permasalahan pertama saudari Flavonoid mampu bertindak sebagai antioksidan dan berfungsi menetralisir radikal bebas dan dengan demikian meminimalkan efek kerusakan pada sel dan jaringan tubuh. Radikal bebas adalah molekul yang sangat reaktif dan tidak stabil akibat telah kehilangan elektron. Untuk menstabilkan diri, radikal bebas memerlukan elektron dan untuk mencapai tujuan ini kemudian mengoksidasi sel-sel sehat tubuh sehingga menyebabkan kerusakan. Radikal bebas terutama diproduksi sebagai produk sampingan dalam berbagai proses biokimia dalam tubuh. Sebagian radikal bebas memasuki tubuh dari lingkungan eksternal seperti dari asap rokok, konsumsi alkohol, radiasi elektromagnetik, melalui paparan sinar matahari, konsumsi makanan olahan, polusi udara, dll.
BalasHapusBahkan stres dapat menghasilkan tingkat tinggi radikal bebas dalam tubuh. Flavonoid sebagai antioksidan membantu menetralisir dan menstabilkan radikal bebas sehingga tidak lagi merusak sel-sel dan jaringan sehat. Pada gilirannya, flavonoid memberikan perlindungan terhadap sejumlah penyakit termasuk kanker, penyakit jantung, diabetes, tumor, dll. Flavonoid juga membantu mencegah aterosklerosis atau penyakit yang ditandai dengan pengendapan lemak dalam dinding arteri.Deposisi tersebut mempersempit arteri dan dengan demikian menghambat aliran darah ke organ-organ vital tubuh seperti jantung dan otak. Flavonoid juga dikenal memiliki efek anti-inflamasi, sifat anti-alergi, dan anti-virus. Antioksidan ini dapat menurunkan risiko arthritis, osteoporosis, alergi dan penyakit virus yang disebabkan oleh virus herpes simpleks, virus parainfluenza, dan adenovirus.
Baiklah saya akan mencoba menjawab permasalahan yang ke 1
BalasHapusSebagai antioksidan, flavonoid dapat menghambat penggumpalan keping-keping sel darah, merangsang produksi nitrit oksida yang dapat melebarkan (relaksasi) pembuluh darah, dan juga menghambat pertumbuhan sel-sel kanker.
Manfaat utama flavonoid dalam tubuh manusia adalah sebagai antioksidan yang bisa menghambat proses penuaan dan mencegah berkembangnya sel kanker.
baik saya akan menambahkan jawaban no 1
BalasHapusFungsi kebanyakan flavonoid dalam tubuh manusia adalah sebagai antioksidan sehingga sangat baik untuk pencegahan kanker. Manfaat flavonoid antara lain adalah untuk melindungi struktur sel, memiliki hubungan sinergis dengan vitamin C (meningkatkan efektivitas vitamin C), antiinflamasi, mencegah keropos tulang, dan sebagai antibiotik. Flavonoids dikenal sebagai salah satu substansi antioksidan yang berkekuatan sangat kuat hingga dapat menghilangkan efek merusak yang terjadi pada oksigen dalam tubuh manusia. Sekarang ini para peneliti sangat tertarik mengenai potensi manfaat substansi kimiawi tersebut yang juga banyak terkandung dalam bawang bombay, apel, dan anggur merah. Dalam banyak kasus, flavonoid dapat berperan secara langsung sebagai antibiotik dengan mengganggu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri atau virus. Fungsi flavonoid sebagai antivirus telah banyak dipublikasikan, termasuk untuk virus HIV (AIDS) dan virus herpes. Selain itu, flavonoid juga dilaporkan berperan dalam pencegahan dan pengobatan beberapa penyakit lain seperti asma, katarak, diabetes, encok/rematik, migren, wasir, dan periodontitis (radang jaringan ikat penyangga akar gigi). Penelitian-penelitian mutakhir telah mengungkap fungsi-fungsi lain dari flavonoid, tidak saja untuk pencegahan, tetapi juga untuk pengobatan kanker.
baiklah saya akan menjawab permasalahan pertama dimana Menurut Middleton dan Kandaswami (1994), flavonoid memegang peranan penting dalam biokimia dan fisiologi tanaman, diantaranya berfungsi sebagai antioksidan, penghambat enzim, dan prekursor bagi komponen toksik. Flavonoid pada tumbuhan berfungsi untuk mengatur pertumbuhan, mengatur fotosintesis, mengatur kerja antimikroba dan antivirus, dan mengatur kerja anti-serangga (Robinson, 1995). Menurut Johnson (2001), flavonoid sangat efektif digunakan sebagai antioksidan. Senyawa flavonoid dapat mencegah penyakit kardiovaskuler dengan menurunkan oksidasi Low Density Lipid (LDL). Choi et al. (1991) menyatakan bahwa flavonoid dapat menurunkan hiperlipidemia pada manusia.
BalasHapusInisiasi : R* + AH RH + A*
Propagasi : ROO* + AH ROOH + A*
Gambar 2. Reaksi penghambatan antioksidan primer terhadap radikal lipida (Gordon, 1990)
Salah satu cara yang untuk mengukur aktivitas antioksidan dapat dilakukan dengan menggunakan metode 2,2 diphenyl-1-picrylhydrazil (DPPH). DPPH merupakan senyawa radikal bebas yang stabil sehingga apabila digunakan sebagai pereaksi dalam uji penangkapan radikal bebas cukup dilarutkan. Metode peredaman radikal bebas DPPH didasarkan pada reduksi dari larutan metanol radikal bebas DPPH yang berwarna oleh penghambat radikal bebas.
saya ingin menjawab pertanyaan nomor 2, Hal ini telah memperkuat dugaan bahwa flavonoid memiliki efek biologis tertentu berkaitan dengan sifat antioksidatifnya tersebut.
BalasHapusBeberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif antara asupan flavonoid dengan resiko munculnya penyakit jantung koroner. Efek kardioprotektif flavonoid sebagai sumber diet telah ditinjau oleh Cook dan S. Samman (1996). Antioksidan alami seperti flavonoid yang banyak terdapat pada minuman dan buah anggur, diketahui memiliki kontribusi dalam menghambat oksidasi LDL (low density lipoprotein) secara ex-vivo (Kanner et al., 1994). Produk oksidatif LDL dapat menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah koroner. Tampaknya aktivitas minuman anggur dalam melindungi LDL manusia dari oksidasi terdistribusi cukup luas diantara komponen-komponen phenolik utamanya (Frankel et al., 1995). Kemudian dengan menggunakan Model Oksidasi in Vitro untuk Penyakit Jantung (in Vitro Oxidation Model for Heart Desease) diketahui bahwa isoflavon ganeistein dan flavonone hesperetin menunjukkan aktivitas antioksidan terikat-lipoprotein (IC50) yang lebih tinggi dari tokoferol (Vinson et al., 1995a).