Jumat, 21 September 2018

Fenil Propanoid


ASAL USUL FENILPROPANOID
Fenilpropanoid merupakan suatu kelompok senyawa fenolik alam yg berasal dari asam amino aromatik fenilalanin dan tirosin. Golongan senyawa ini adalah zat antara dari jalur  biosintesis asam sikimat. Berdasarkan strukturnya, fenilpropanoid memiliki cincin fenil yang menjadi tempat melekatnya rantai samping 3C. Senyawa fenilpropanoid adalah senyawa memiliki kerangka aromatik fenil (C6) dengan rantai samping propanoid (C3), sehingga jumlah total karbonnya adalah 9 dan disebut C9 atau fenil propanoid dan kelipatannya. Fenilpropanoid juga dapat mengandung satu atau lebih residu C6-C3. Karakteristik lainnya adalah tidak mengandung atom nitrogen dan terdapat satu atau beberapa gugus hidroksil yang melekat pada rantai aromatik, sehingga memiliki sifat fenolik. Karenanya, golongan fenilpropanoid disebut pula sebagai fenolik tumbuhan. Keberadaannya berlimpah pada tumbuhan namun terbatas pada jamur dan belum ditemukan pada manusia atau vertebrata.
Senyawa fenil propanoid terbentuk dari asam sikimat. Selain fenil propanoid, jalur asam sikimat dihipotesiskan membentuk building block C7. Berbagai senyawa golongan  lignin, stilben, kumarin memiliki kerangka C9. Sedangkan asam galat, struktur benzoik, berbagai polifenol (bukan jalur tunggal) terbentuk dari struktur C7.Golongan ini melewati  starting material asam amino L-tirosin dan L-fenilalalin yang merupakan asam amino esensial (manusia tidak memiliki jalur biosintesis ini), sehingga potensi toksisitasnya kecil pada manusia.

STRUKTUR MOLEKUL
Senyawa fenilpropanoid merupakan salah satu kelompok senyawa fenol utama yang berasal dari jalur shikimat. Senyawa senyawa fenol ini mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari cincin benzen (C6) yang terikat pada ujung rantai karbon propana (C3)
 
Beberapa jenis senyawa yang termasuk fenilpropanoida ialah:
1.      Turunan Sinamat
Contohnya : 
2.      Turunan Kumarin
Contohnya : 
3.      Turunan Alilfenol
Contohnya : 
 
4.      Turunan Propenil fenol
Contohnya : 
Struktur beberapa jenis senyawa fenilpropanoida tersebut diatas menunjukkan kerangka dasar fenilpr opanoida yang nyata dan kerangka karbon ini mempunyai oksidasi maksimal trihidroksida. Kemungkinan lain dari pola oksidasi adalah 3,4-dihidroksi atau 4-hidroksi atau tidak teroksidasi sama sekali

SKRINNING FITOKIMIA
Skrinning fitokimia atau uji pendahuluan merupakan tahap pendahuluan dalam penelitian isolasi. Secara umum dapat dikatakan bahwa sebagian besar metodenya merupakan reaksi pengujian warna dengan suatu pereaksi warna. Metode yang digunakan atau dipilih untuk melakukan skrining fitokimia harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain sederhana, cepat, dapat dilakukan dengan peralatan minimal, bersifat semikuantitatif yaitu memiliki batas kepekaan untuk senyawa yang bersangkutan, selektif terhadap golongan senyawa yang dipelajari, dan dapat memberikan keterangan tambahan ada atau tidaknya senyawa tertentu dalam dari golongan senyawa yang dipelajari (Noerono, 1994).
Senyawa fenilpropanoid termasuk dalam senyawa fenol. Oleh karena itu digunakan uji senyawa fenol. Cara uji fenol yaitu serbuk sampel kering dengan berat tertentu dipanaskan dengan metanol atau etanol. Selanjutnya disaring untuk mengambil filtratnya. Filtrat selanjutnya ditambahkan dengan aquadest dan larutan FeCl3, selanjutnya dilihat perubahan warna filtrate yang terjadi. Sampel dinyatakan positif mengandung senyawa fenol (fenilpropanoid) jika warna filtrate berubah menjadi hijau, merah, ungu, biru, atau hitam yang kuat (Harborne, 1987).
Ion Fe3+ bereaksi dengan beberapa senyawa organik golongan fenol membentuk senyawa kompleks dengan warna yang kuat. Warna dari senyawa kompleks yang terbentuk bervariasi. Persamaan reaksi antara fenol dengan Fe3+:

Senyawa fenol yang awalnya bening ketika ditetesi FeCl3 akan berubah menjadi warna tertentu sesuai dengan jenis senyawa fenolnya. Hal ini menunjukkan bahwa telah terbentuk senyawa kompleks dari Fe3+ dengan fenol. Fenol merupakan senyawa yang mengandung gugus hidroksil yang terikat pada karbon tak jenuh, sehingga dapat bereaksi dengan besi (III) klorida menghasilkan larutan berwarna.
Menurut Jones (2006), jika reaksi antara suatu senyawa organic dengan pereaksi FeCl3 menyebabkan larutan berubah warna menjadi biru tua, biru kehitaman, atau hijau kehitaman maka hal itu menunjukkan adanya senyawa polifenol dan tanin.

ISOLASI ATAU PEMISAHAN SENYAWA
Kromatografi merupakan salah satu metode pemisahan komponen-komponen campuran dimana cuplikan berkesetimbangan di antara dua fasa, fasa gerak yang membawa cuplikan dan fasa diam yang menahan cuplikan secara selektif. Bila fasa gerak berupa gas, disebut kromatografi gas, dan sebaliknya kalau fasa gerak berupa zat cair, disebut kromatografi cair (Hendayana, 1994).
Kromatografi Cair Vakum (KCV) merupakan salah satu metode fraksinasi yaitu dengan memisahkan ekstrak kasar menjadi fraksi-fraksinya yang lebih sederhana. Pemisahan tersebut memanfaatkan kolom yang berisi fasa diam dan aliran fasa geraknya dibantu dengan pompa vakum. Fasa diam yang digunakan dapat berupa silika gel atau alumunium oksida. Kromatografi kolom cair dapat dilakukan pada tekanan atmosfer atau pada tekanan lebih besar dari atmosfer dengan menggunakan bantuan tekanan luar misalnya gas nitrogen. Untuk keberhasilan praktikan di dalam bekerja dengan menggunakan kromatografi kolom vakum cair, oleh karena itu syarat utama adalah mengetahui gambaran pemisahan cuplikan pada kromatografi lapis tipis (Harris, 1982).
Adapun KCV ini merupakan pemisahan fraksi berdasarkan pelarutnya. Agar fraksi tertentu turun, maka harus ditingkatkan kepolarannya dari non polar, sedikit polar, semi polar, agak polar sampai 100% polar, hal ini dikarenakan didalam sampel itu terdapat senyawa yang berbeda kepolarannya. Untuk meningkatkan kepolaran pelarut dilakukan perbandingan campuran pelarut, pada mulanya pelarut non polar dicampur dengan pelarut semi polar dengan perbandingan tertentu, dan sampai nanti pelarut semipolar dicampur dengan pelarut polar dengan perbandingan tertentu. Sampel atau fraksi yang turun itu sesuai dengan kepolaran pelarut yang digunakan. Bila pelarut yang digunakan adalah n-heksana (non polar) maka fraksi yang akan turun adalah senyawa nonpolar, sedangkan senyawa polar tidak turun karena tidak larut dengan pelarut n- heksana (Andy, 2014).
Sebelum difraksinasi, ekstrak kental dianalisis dengan kromatografi lapis tipis (KLT) dengan berbagai eluen dan berbagai perbandingan untuk mengetahui jenis pelarut yang sesuai pada kromatografi kolom cair vakum. Ekstrak kental yang terdiri dari beberapa komponen tersebut difraksinasi dengan metode kromatografi kolom cair vakum. Hasil fraksinasi di KLT dengan eluen yang sama, kemudian yang sama nilai Rfnya digabungkan. Fraksi gabungan dianalisis kembali dengan kromatografi lapis tipis dan diuapkan dengan maksud menentukan fraksi yang akan dimurnikan lebih lanjut melalui metode kromatografi kolom flash.
Pemurnian senyawa dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan rekristalisasi, uji tiga eluen yang berbeda kepolarannya, serta uji titik leleh senyawa tersebut. Pemilihan pelarut tersebut didasarkan pada prinsip rekristalisasi yaitu sampel yang tidak larut dalam suatu pelarut pada suhu kamar tetapi dapat larut dalam pelarut pada suhu kamar. Jadi rekristalisasi meliputi tahap awal yaitu melarutkan senyawa yang akan dimurnikan dalam sedikit mungkin pelarut atau campuran pelarut dalam keadaaan panas atau bahkan sampai suhu pendidihan
Sehingga diperoleh larutan jernih dan tahapan selanjutnya yaitu mendinginkan larutan yang akan dapat menyebabkan terbentuknya kristal, lalu dipisahkan melalui penyaringan (Agusti, 2011). Fraksi gabungan yang diperoleh kemudian di KLT sistem tiga eluen dengan menggunakan larutan pengembang atau eluen yang sesuai. Jika hasil KLT memperlihatkan noda tunggal, maka senyawa tersebut telah murni.

BIOAKTIVITAS FENIL PROPANOID
Golongan fenil propanoid adalah senyawa yang memiliki  aktifitas farmakologi luas seperti antikanker (podofilo toksin), filantin berefek sebagai hepatoprotektor dan stimulant kekebalan dalam tanaman meniran (Phyllanthus niruri), antiaterosklerosis (stilebenoid, dan resveratrol), antidiabetes (sinamaldehide, yang terkandung dalam kulit kayu manis ( Cinnamomum burmani)),dan eugenol yang merupakan bahan antiseptik gigi yang diperoleh dari kuncup bunga cengkeh (Syzygium aromaticum).


PERMASALAHAN
1.      Mengapa Berbagai bahan parfum atau aroma aromaterapi juga merupakan senyawa fenil propanoid?
2.      Apakah peran penting tiga contoh senyawa fenil propanoid yaitu sinamaldehida, eugenol dan apiel?
3.      Fenil propanoid terdapat hamper di semua protein namun ia tidak dapat di produksi oleh tubuh manusia mengapa demikian?









Fenil Propanoid

ASAL USUL FENILPROPANOID Fenilpropanoid merupakan suatu kelompok senyawa fenolik alam yg berasal dari asam amino aromatik fenilalanin ...