ASAL USUL ALKALOID
Alkaloid adalah senyawa organik yang terdapat di alam bersifat
basa atau alkali dan sifat basa ini disebabkan karena adanya atom N (Nitrogen)
dalam molekul senyawa tersebut dalam struktur lingkar heterosiklik atau
aromatis, dan dalam dosis kecil dapat memberikan efek farmakologis pada manusia
dan hewan. Selain itu ada beberapa pengecualian, dimana termasuk golongan
alkaloid tapi atom N (Nitrogen)nya terdapat di dalam rantai lurus atau alifatis.
Pada zaman dahulu, sumber utama alkaloid hanya terdapat pada tanaman berbunga saja
(Angiospermae) tapi dalam dasawarsa terakhir ini, alkaloid juga ditemukan pada binatang
baik yang terdapat di darat maupun di laut, pada serangga, tanaman rendah
lainnya.
Bahkan mikroorganisme. Agar lebih dipahami, alkaloid di bagi
menjadi beberapa kelompok menurut atom Nitrogennya. Yaitu; Alkaloid sebenarnya,
protoalkaloid dan pseudoalkaloid. Dan berdasarkan intinya penyusunnya (basa
organiknya) diklasifikasikan menjadi 12 kelompok yaitu; Benzena, Piridina,
Piperidina, Kuinolina, Isokuinolina, Fenantren, Pirolidina Siklo pentano perhidro
fenantren, Imidazol, Indol, Purin dan Tropan. Bervariasinya skema untuk
klasifikasi alkaloid didasarkan pada konstitusinya, telah disarankan dalam hal
ini tata nama untuk alkaloid.
Karena luasnya variasi kelompok
alkaloid, akan tetapi tidak satu pun yang sangat memuaskan. Obat - obatan
pertama yang diketemukan secara kimia adalah opium, getah kering Apium Papaver
somniferum. Opium telah digunakan dalam obat - obatan selama berabad - abad dan
sifat – sifatnya sebagai analgesic maupun narkotik telah diketahui. Pada tahun 1803, Derosne mengisolasi alkaloid semi
murni dari opium dan diberi nama narkotin. Seturner pada tahun 1805 mengadakan
penelitian lebih lanjut terhadap opium dapat berhasil mengisolasi morfin.
Dalam tahun 1817-1820 di Laboratorium
Pelletier dan Caventon di Fakultas Farmasi di Paris, melanjutkan penelitian di
bidang kimia alkaloid yang menakjubkan. Daintara
alkaloid yang diperoleh dalam waktu singkat tersebut adalah Strikhnin, Emetin, Brusin,
Piperin, kaffein, Quinin, Sinkhonin, dan Kolkhisin.
Pada
tahun 1826, Pelletier dan Caventon juga memperoleh Koniin suatu alkaloid yang memiliki
sejarah cukup terkenal. Alkaloid tersebut tidak hanya yang bertanggung jawab atas kematian Socrates akibat dari hisapan
udara yang beracun, tetapi karena struktur molekulnya yang sederhana. Koniin merupakan
alkaloid pertama yang ditentukan sifat – sifatnya (1870) dan yang pertama disintesis
(1886). Selama tahun 1884 telah ditemukan paling sedikit 25 alkaloid hanya dari
Chinchona. Kompleksitas alkaloid
merupakan penghalang elusidasi struktur molekul selama abad ke sembilan belas bahkan
pada awal abad ke dua puluh. Sebagai contoh adalah Stikhnin yang ditemukan
pertama kali oleh Pelletier dan Caventon pada tahun 1819 dan struktur akhirnya
dapat ditentukan oleh Robinson dan kawan - kawan pada tahun 1946 setelah
melakukan pekerjaan kimia yang ekstra sukar selama hampir 140 tahun.
STURTUR ALKALOID
Klasifikasi
alkaloida dapat dilakukan berdasarkan beberapa cara yaitu :
1. Berdasarkan jenis cincin heterosiklik
nitrogen yang merupakan bagian dari struktur molekul. Berdasarkan hal tersebut,
maka alkaloida dapat dibedakan atas beberapa jenis seperti alkaloida pirolidin,
alkaloida piperidin, alkaloida isokuinolin, alkaloida kuinolin dan alkaloida
indol. Struktur masing-masing alkaloida tersebut adalah sebagai berikut :
2. Berdasarkan jenis tumbuhan darimana
alkaloida ditemukan. Cara ini digunakan untuk menyatakan jenis alkaloida yang pertama-tama
ditemukan pada suatu jenis tumbuhan. Berdasarkan cara ini, alkaloida dapat
dibedakan atas beberapa jenis yaitu alkaloida tembakau, alkaloida amaryllidaceae,
alkaloida erythrine dan sebagainya.
Cara
ini mempunyai kelemahan yaitu : beberapa alkaloida yang berasal dari suatu tumbuhan tertentu dapat
mempunyai struktur yang berbeda-beda. Sebagian besar alkaloida mempunyai
kerangka dasar polisiklik termasuk cincin heterosiklik nitrogen serta mengandung
substituen yang tidak terlalu bervariasi. Atom nitrogen alkaloida hampir selalu
berada dalam bentuk gugus amin (-NR2) atau gugus amida (-CO-NR2) dan tidak pernah
dalam bentuk gugus nitro (NO2) atau gugus diazo. Sedang substituen oksigen
biasanya ditemukan sebagai gugus fenol (-OH), metoksil (-OCH3) atau gugus
metilendioksi (-O-CH2-O). Substituen - substituen oksigen ini dan gugus N-metil
merupakan ciri sebagian besar alkaloida.
SKRINING FITOKIMIA/REAKSI PENGENALAN
Uji Alkaloid dilakukan dengan metode Mayer,Wagner dan
Dragendorff. Sampel sebanyak 3 mL diletakkan dalam cawan porselin kemudian
ditambahkan 5 mL HCl 2 M , diaduk dan kemudian didinginkan pada temperatur
ruangan. Setelah sampel dingin ditambahkan 0,5 g NaCl lalu diaduk dan disaring.
Filtrat yang diperoleh ditambahkan HCl 2 M sebanyak 3 tetes , kemudian dipisahkan
menjadi 4 bagian A, B, C, D. Filtrat A sebagai blangko, filtrate B ditambah
pereaksi Mayer, filtrat C ditambah pereaksi Wagner, sedangkan filtrat D
digunakan untuk uji penegasan. Apabila terbentuk endapan pada penambahan
pereaksi Mayer dan Wagner maka identifikasi menunjukkan adanya alkaloid. Uji
penegasan dilakukan dengan menambahkan amonia 25% pada filtrat D hingga PH 8 -
9. Kemudian ditambahkan kloroform, dan diuapkan diatas waterbath. Selanjutnya ditambahkan
HCl 2M, diaduk dan disaring. Filtratnya dibagi menjadi 3 bagian. Filtrat A
sebagai blangko, filtrat B diuji dengan pereaksi Mayer, sedangkan filtrate C
diuji dengan pereaksi Dragendorff. Terbentuknya endapan menunjukkan adanya alkaloid.
ISOLASO ALKALOID
Pada dasarnya isolasi senyawa kimia dari bahan alam adalah
sebuah cara untuk memisahkan senyawa yang bercampur sehingga dapat menghasilkan
senyawa tunggal yang murni. Isolasi adalah cara pemisahan komponen - komponen kimia
yang terdapat dalam suatu bahan alam. Cara isolasi senyawa metabolit sekunder biasanya terdiri dari ekstraksi,
fraksinasi, pemisahan menggunakan berbagai teknik kromatografi, pemurnian dengan
cara rekristalisasi dan identifikasi
serta karakterisasi. Pemisahan kandungan tumbuhan terutama dilakukan dengan
menggunakan salah satu dari empat teknik kromatografi. Keempat teknik
kromatografi itu adalah Kromatografi Lapis Tipis, Kromatografi Kolom,
kromatografi gas cair (KGC), kromatografi cair kinerja tinggi (Harborne, 1987).
Kromatografi kolom adalah salah satu metode pemisahan
senyawa yang telah lama ada dan masih banyajk digunakan. Pemisahan senyawa
menggunakan kromatografi kolom sangat efisien untuk memisahkan senyawa - senyawa
dalam jumlah banyak. Pemisahan menggunakan kromatografi kolom berdasarkan pada adsorbsi
dan partisi (Gritter,1991). Fase gerak yang dipilih pada penelitian ini disesuaikan
dengan sifat kelarutan senyawa yang akan dianalisis. Pemisahan senyawa alkaloid
ini menggunakan fase gerak kloroform:metanol dengan perbandingan volume 9,5:0.5. Pemakaian fase
gerak tersebut berdasarkan pada penelitian sebelumnya yaitu Husna (2011)
menganalisis ekstrak etil asetat tanaman anting - anting dengan menggunakan KLT
dengan fase gerak kloroform:metanol (9,5:0,5) pendeteksi UV 366 nm serta
penampak noda dragendroff dan dihasilkan senyawa alkaloid dengan Rf 0,37-0,97.
Fase diam yang digunakan pada proses
pemisahan kromatografi kolom adalah silika gel G-60 (0,063 – 0,200 mm). Silika
gel merupakan fase diam yang paling banyak digunakan dalam pemisahan bahan
alam. Silika gel memberikan luas permukaan yang besar dikarenakan ukuran partikel
silika gel yang kecil. Adapun struktur
dasar silika gel dapat dilihat pada gambar 2.10(Noviyanti, dkk., 2010).
Zhou (2005) telah melakukan isolasi dan pemurnian senyawa
flavonoid dari Trollius ledebouri menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi
dengan menggunakan variasi laju alir 1,5 mL/menit dan 2,5 mL/menit diperoleh
laju alir yang optimal adalah 1,5
mL/menit dengan menghasilkan berat 9,3 mg dan kemurnian senyawa 97%. Sementara Kong
(2005) melakukan isolasi dan pemurnian senyawa alkaloid dari obat herbal China Evodia
rutaecarpa (Juss.) menggunakan kromatografi
cair kinerja tinggi dengan laju alir 2 mL/ menit dan diperoleh hasil pemisahan
senyawa turunan alkaloid 1-methy-2-6,9-pentadecadienyl-4-quinolone dan 1-methyl-2-dodecyl-4-quinolone.
BIOAKTIVITAS ALKALOID
Sumber
Kafein
Kafein ialah senyawa kimia yang dijumpai secara alami di
didalam makanan contohnya biji kopi, teh, biji kelapa, buah kola (cola
nitide) guarana, dan mate. Teh adalah sumber kafein yang
lain, dan mengandung setengah dari kafein yang dikandung kopi. Beberapa tipe
teh yaitu teh hitam mengandung lebih banyak kafein dibandingkan jenis teh yang
lain. Teh mengandung sedikit jumlah teobromine dan sedikit lebih tinggi theophyline
dari kopi.
Kafein juga merupakan bahan yang dipakai untuk ramuan
minuman non alkohol seperti cola, yang semula dibuat dari kacang kola. Soft
drinks khususnya terdiri dari 10-50 miligram kafein. Coklat terbuat dari
kokoa mengandung sedikit kafein seperti terlihat pada tabel 2.1. Efek stimulan
yang lemah dari coklat dapat merupakan kombinasi dari theobromine dan theophyline
sebagai kafein (Casal etal.2000).
PERMASALAHAN
1. Mengapa Alkaloid golongan Pyrrolizidine
bersifat racun?
2. Morfin termasuk jenis Alkaloid
Isoquinolin, Mangapa morfin dapat menyebabkan
ketergantungan fisik ?
3. Bagaimana
keaktifan biologis alkaloid yang sangat berguna dalam pengobatan?
baik saya akan menjawab permaslahann0 2
BalasHapusMorfin adalah zat yang berpotensi sangat adiktif. Hal ini dapat menyebabkan ketergantungan psikologis dan ketergantungan fisik serta toleransi, dengan potensi kecanduan yang identik dengan yang heroin. Ketika digunakan dengan tidak sah, kebiasaan narkotika sangat serius dapat mengembangkan dalam hitungan minggu, sedangkan iatrogenik morfin kecanduan harga, menurut sejumlah studi, tetap hampir konstan pada satu kasus di 150-200 selama setidaknya dua abad. Di hadapan para rasa sakit dan gangguan lainnya yang ditunjukkan morfin, kombinasi faktor-faktor psikologis dan fisiologis cenderung untuk mencegah benar kecanduan dari pengembangan, meskipun ketergantungan fisik dan toleransi akan mengembangkan dengan terapi opioid berlarut-larut. Kedua faktor '' tidak '' menambahkan hingga kecanduan tanpa ketergantungan psikologis manifest yang terutama sebagai mengerikan mencari orientasi untuk obat. Morfin adalah alkaloid analgesik yang sangat kuat dan merupakan agen aktif utama yang ditemukan pada opium. Morfina bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk menghilangkan rasa sakit. Efek samping morfina antara lain adalah penurunan kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu, dan penglihatan kabur. Morfina juga mengurangi rasa lapar, merangsang batuk, dan meyebabkan konstipasi. Morfina menimbulkan ketergantungan tinggi dibandingkan zat-zat lainnya. Pasien ketergantungan morfina juga dilaporkan menderita insomnia dan mimpi buruk.
Baiklah saya akan menjawab permasalahan ketiga dimana Hampir semua alkaloida yang ditemukan di alam mempunyai keaktifan biologis tertentu, ada yang sangat beracun tetapi ada pula yang sangat berguna dalam pengobatan. Misalnya kuinin, morfin dan stiknin adalah alkaloida yang terkenal dan mempunyai efek sifiologis dan fisikologis. Alkaloida dapat ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan seperti biji, daun, ranting dan kulit batang. Alkaloida umunya ditemukan dalam kadar yang kecil dan harus dipisahkan dari campuran senyawa yang rumit yang berasal dari jaringan tumbuhan.
BalasHapusBerdasarkan literatur, diketahui bahwa hampir semua alkaloid di alam mempunyai keaktifan biologis dan memberikan efek fisiologis tertentu pada mahluk hidup. Sehingga tidaklah mengherankan jika manusia dari dulu sampai sekarang selalu mencari obat-obatan dari berbagai ekstrak tumbuhan. Fungsi alkaloid sendiri dalam tumbuhan sejauh ini belum diketahui secara pasti, beberapa ahli pernah mengungkapkan bahwa alkaloid diperkirakan sebagai pelindung tumbuhan dari serangan hama dan penyakit, pengatur tumbuh, atau sebagai basa mineral untuk mempertahankan keseimbangan ion.
saya ingin menanggapi pertanyaan pertama. alkaloid pirolizidin banyak ditemukan pada familia tanaman Asteraceae dan Boraginaceae. secara umum senyawa ini bersifat toksik dikarenakan dapat merusak liver melalui senyawa pirol hasil metabolismenya. Alkaloid golongan pyrrolizidine juga dapat merangsang pembentukan kanker (karsinogenic), dapat menyebabkan mutasi sel (mutagenic), dan dapat menimbulkan kelainan janin (teratogenic) yang bahkan mematikan.
BalasHapussaya ingin mencoba menambahkan jawaban saudari
HapusPyrrolizidine adalah kelompok yang rumit. Kebetulan, kelompok alkaloid selalu terbukti menjadi kepentingan farmakologis besar bagi para peneliti dan pemeriksa klinis. Semua alkaloid ini dikenal memiliki fitur mematikan dan mungkin terbukti berakibat fatal. Sementara pyrrolizidine diperoleh dari ornithine dan dikenal berbahaya untuk hati. Pyrrolizidine umumnya ditemukan di ragworts, yang merupakan masalah untuk hewan merumput, comfrey,borage dan coltsfoot. Banyak alkaloid golongan pyrrolizidine bersifat racun terutama terhadap hepar (hepatotoxic), juga dapat merangsang pembentukan kanker (karsinogenic), dapat menyebabkan mutasi sel (mutagenic), dan dapat kelainan janin (teratogenic).terhadap hepar atau hati dapat menyebabkan pembesaran hepar (hepatomegali) dan bahkan mematikan. Alkaloida golongan Pirolizidin, yaitu alkaloida dengan inti Pirolizidin dalam struktur kiminya. Contohnya : Retroresin pada tumbuhan Clitoria retusa. KOMFREY KOMFREY (Symphytum officinale L. ) Famili : Boroginaceae Daerah : Comfrey, knit bone, K’ang fu li (Cina) Sifat Kimiawi : Kandungan kimia tumbuhan ini yaitu symphytine, echimidine, anadoline, alkaloid pyrrolizidine (Pas), tanin, minyak atsiri, allatonin dan vitamin B1, B2, C dan E. Efek Farmakologis : Dalam farmakologi Cina dan pengobatan tradisio-nal lain disebutkan, bahwa tanaman ini memiliki sifat dingin, agak sedikit pahit. Bagian tanaman yang digunakan : Daun dengan tanpa tangkai atau akar. Cara budidaya : Perbanyakan tanaman dengan menggunakan anakan. Pemeliharaan mudah, perlu cukup air dengan cara penyiraman yang cukup menjaga kelembaban dan pemupukan terutama pupuk dasar. Tanaman herba, membentuk rumpun, tinggi 20-50 cm. Batang semu, tidak berkayu, bertangkai. Daun tunggal, bulat telur, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, permukaan kasar, panjang 27-50 cm, lebar 4-14 cm, pertulangan menyirip, warna hijau. Bunga majemuk, bentuk corong, bertaju lima, warna putih kekuningan. Buah bulat, tiap buah terdiri atas 4 biji. Khasiat : Comfrey digunakan untuk mengobati luka dan mengurangi radang yang terkait dengan terkilir dan patah tulang. Akar dan daun mengandung allantoin, zat yang membantu pertumbuhan sel-sel kulit baru, bersama dengan zat lain yang mengurangi inflamasi dan menjaga kulit tetap sehat. Salep Comfrey sering diterapkan pada permukaan kulit untuk menyembuhkan memar serta menarik otot dan sendi, patah tulang, atau terkilir. Secara historis, komprei juga digunakan untuk mengobati penyakit gastrointestinal. Namun, ramuan yang mengandung bahan berbahaya yang disebut alkaloid pyrrolizidine sangat beracun untuk hati dan dapat menyebabkan kematian.
Baiklah saya akan menjawab permasalahan no 1
BalasHapusYang mana Pyrrolizidine alkaloid (PA) digambarkan sebagai
grup/golongan dari lebih 350 senyawa yang mana bersifat basa. PA memiliki adverse effect yaitu bersifat hepatotoksik kuat, karsinogen, mutasi sel, dan kelainan janin(teratogenic). Oleh karena itu, untuk penggunaan sediaan
herbal atau ekstraknya, total kandungan PA harus tidak lebih dari 1 μg/kg atau 1 μg/l.
saya ingin menjawab pertanyaan nomor 1, ecara umum senyawa ini bersifat toksik dikarenakan dapat merusak liver melalui senyawa pirol hasil metabolismenya. Alkaloid golongan pyrrolizidine juga dapat merangsang pembentukan kanker (karsinogenic), dapat menyebabkan mutasi sel (mutagenic), dan dapat menimbulkan kelainan janin (teratogenic) yang bahkan mematikan.
BalasHapus