Penggunaan media dalam proses
pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas
prestasi belajar.
Diharapkan proses pembelajaran menjadi efektif, interaktif, dan efisien.
1.
Landasan Filosofis
Ada
suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil dari
teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang
manusiawi. Bisa dikatakan, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi
dehumanisasi. Tetapi, siswa harkat kemanusiaannya diberi kebebasan untuk
menentukan pilihan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya.
yang mana landasan filosofi ini mengacu pada pengertian filsafat,yakni :
Filsafat bisa diartikan: (1)
sebagai aliran atau hasil pemikiran, yakni berupa sistem pemikiran yang
konsisten dan dalam tarap tertentu sebagai sistem tertutup (closed system), dan
(2) sebagai metode berfikir, yang dapat dicirikan: a. mencari ide dasar yang
bersifat fundamental (fundamental ideas), b) membentuk cara berfikir kritis
(critical thought), dan c) menjunjung tinggi kebebasan serta keterbukaan
intelektual (intelectual freedom).
Sebagai sebuah cabang filsafat, kurang lebih
sudut pandang inilah, filsafat ilmu melihat ilmu-ilmu sebagai obyek kajiannya.
Karenanya filsafat ilmu bisa juga disebut sebagai bidang yang unik, sebab yang
dipelajari adalah dirinya sendiri. Berdasarkan
arti secara etimologi sebagaimana dijelaskan di atas kemudian para ahli
berusaha merumuskan definisi fisafat. Ada yang menyatakan bahwa filsafat
sebagai suatu usaha untuk berfikir secara radikal dan menyeluruh, suatu cara
berfikir dengan mengupas sesuatu dalam-dalam. Aktivitas tersebut diharapkan
dapat menghasilkan suatu kesimpulan universal dari kenyataan partikular atau
khusus dari hal yang tersederhana sampai ke hal yang terkomplek.
Senada dengan itu ada yang memdefinisikan
Filsafat adalah berfikir bebas, radikal, dan berada pada dataran makna.
Bebas artinya tidak ada yang menghalang-halangi kerja pikiran. Radikal artinya
berfikir sampai ke akar-akar masalah (mendalam) bahkan sampai melewati
batas-batas fisik atau yang disebut metafisis. Sedang berfikir dalam tahap
makna berarti menemukan makna terdalam dan suatu yang terkandung didalamnya.
Makna tersebut bisa berupa nilai-nilai seperti kebenaran, keindahan maupun
kebaikan.
2. Landasan
Psikologis
Dengan memperhatikan kompleks dan
uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran
akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi
siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan
media, di samping memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar,
memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal agar proses
pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.
3.
Landasan Teknologis
Teknologi pembelajaran adalah teori
dan praktek perancangan, pengembangan, penerapan, pengelolaan, dan penilaian
proses dan sumber belajar. Jadi, teknologi pembelajaran merupakan proses
kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan
organisasi untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan,
mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam situasi di mana
kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol.
Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki
enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
a. Meningkatkan produktivitas pendidikan ( Can make education more productive).
Dengan media dapat meningkatkan produktivitas pendidikan antara lain dengan jalan mempercepat laju belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.
b. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make education more individual).
Pembelajaran menjadi lebih bersifat individual antara lain dalam variasi cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya.
c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran ( Can give instruction a more scientific base).
Artinya perencanaan program pembelajaran lebih sistematis, pengembangan bahan pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik siswa, karakteristk bahan pembelajaran, analisis instruksional dan pengembangan disain pembelajaran dilakukan dengan serangkaian uji coba yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
d. Lebih memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat
e. Dengan media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make learning more immediate).
Karena media mengatasi jurang pemisah antara pebelajar dan sumber belajar, dan meng-atasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam memperoleh informasi, dapat menyajikan “kekongkritan” meskipun tidak secara langsung.
f. Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make access to education more equal).
a. Meningkatkan produktivitas pendidikan ( Can make education more productive).
Dengan media dapat meningkatkan produktivitas pendidikan antara lain dengan jalan mempercepat laju belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.
b. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make education more individual).
Pembelajaran menjadi lebih bersifat individual antara lain dalam variasi cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya.
c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran ( Can give instruction a more scientific base).
Artinya perencanaan program pembelajaran lebih sistematis, pengembangan bahan pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik siswa, karakteristk bahan pembelajaran, analisis instruksional dan pengembangan disain pembelajaran dilakukan dengan serangkaian uji coba yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
d. Lebih memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat
e. Dengan media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make learning more immediate).
Karena media mengatasi jurang pemisah antara pebelajar dan sumber belajar, dan meng-atasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam memperoleh informasi, dapat menyajikan “kekongkritan” meskipun tidak secara langsung.
f. Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make access to education more equal).
4.
Landasan Empiris
Berdasarkan landasan rasional
empiris, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan
guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar,
karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
Berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi antara
penggunaan media pembelajaran dan karakteristik pebelajar dalam
menentukan hasil belajar siswa. Artinya bahwa pebelajar akan mendapat
keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang
sesuai dengan karakteristiknya. Pebelajar yang memiliki gaya visual
akan lebih mendapat keuntungan dari penggunaan media visual, seperti
film, video, gambar atau diagram; sedangkan pebelajar yang memiliki gaya
belajar auditif lebih mendapatkan keuntungan dari penggunaan media
pembelajaran auditif, seperti rekaman, radio, atau ceramah guru.
Atas dasar ini, maka prinsip penyesuaian jenis media yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran dengan karakteristik individual pebelajar, menjadi semakin mantap. Pemilihan dan penggunaan media hendaknya jangan didasarkan pada kesukaan atau kesenangan guru, tetapi dilandaskan pada kecocokan media itu dengan karakteristik pebelajar, di samping sejumlah kriteria lain yang dijelaskan pada bagian lain buku ini.
Atas dasar ini, maka prinsip penyesuaian jenis media yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran dengan karakteristik individual pebelajar, menjadi semakin mantap. Pemilihan dan penggunaan media hendaknya jangan didasarkan pada kesukaan atau kesenangan guru, tetapi dilandaskan pada kecocokan media itu dengan karakteristik pebelajar, di samping sejumlah kriteria lain yang dijelaskan pada bagian lain buku ini.
5.
Landasan Historis
Yang dimaksud dengan landasan
historis media pembelajaran ialah rational penggunaan media pembelajaran
ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran.
Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya
konsepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923.
Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan
lahirnya kon-sepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar
tahun 1923.Yang dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi
pengajaran visual ini adalah setiap gambar, model, benda atau alat yang
dapat memberikan pengalaman visual yang nyata kepada pebelajar.
Kemudian kosep pengajaran visual ini berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk memindahkan gagasan dan pengalaman pebelajar melalui mata dan telinga. Pemanfaat-an konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” dari Edgar Dale.
Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut “audio visual communication” pada tahun 1950-an. Dengan diterapkannya konsep komunikasi dalam pembelajaran, peekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau bahan yang berupa bahan audio visual untuk pembelajaran, tetapi dipusatkan pada keseluruhan proses komu-nikasi informasi atau pesan dari sumber (guru, materi atau bahan) kepada penerima (pebelajar). Gerakan komunikasi audio visual memberikan penekakan kepada proses komunikasi yang lengkap dengan menggunakan sistem pembelajaran yang utuh. Jadi konsepsi audio visual berusaha mengaplikasikan konsep komunikasi, sistem, disain sistem pembelajaran dan teori belajar dalam kegiatan pembelajaran.
Kemudian kosep pengajaran visual ini berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk memindahkan gagasan dan pengalaman pebelajar melalui mata dan telinga. Pemanfaat-an konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” dari Edgar Dale.
Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut “audio visual communication” pada tahun 1950-an. Dengan diterapkannya konsep komunikasi dalam pembelajaran, peekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau bahan yang berupa bahan audio visual untuk pembelajaran, tetapi dipusatkan pada keseluruhan proses komu-nikasi informasi atau pesan dari sumber (guru, materi atau bahan) kepada penerima (pebelajar). Gerakan komunikasi audio visual memberikan penekakan kepada proses komunikasi yang lengkap dengan menggunakan sistem pembelajaran yang utuh. Jadi konsepsi audio visual berusaha mengaplikasikan konsep komunikasi, sistem, disain sistem pembelajaran dan teori belajar dalam kegiatan pembelajaran.
PERTANYAAN
1. Psikologis yang seperti apa yang dimaksudkan dalam landasan psikologis?
2. apakah akibatnya jika seorang guru menggunakan media pembelajaran berdasarkan sesuka dan kesenangan dia mengajar ?
3. mengapa digunakannya berbagai jenis media hasil dari
teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang
manusiawi?
Menanggapi permasalahan annisa yang pertama, pendapat saya, maksudnya disana adalah yabg berlandaskan bisakah media yang dibuat merangsang emosional peserta didik seperti memotivasi, menyenangkan, dan interaktif. Dengan demikian belajar menggunakan media dapat mewujudkan pembelajaran yang PAIKEM.
BalasHapusbaiklah saya akan menanggapi permasalahan nomor 2 :
BalasHapusapabila guru menggunakan media pembelajaran berdasarkan sesuka dan kesenangan dia mengajar maka akan membawa dampak buruk bagi peserta didik dikarenakan tujuan dari guru mengajar yaitu untuk menambah ilmu bagi peserta didik jika hanya sesuka saja itu merupakan hal yang percuma karena peserta didik tidak akan mengerti apa yang telah dijelaskan .
Saya akan menanggapi permasalahn no. 2 jika multimedia yang digunakan di buat sesuka hati guru maka tujuan pembelajaran yang seharusnya tercapai tidak tersampaikan, dan akan menyebabkan materi yang disampaikan tidak bisa diterima oleh siswa.
BalasHapusSaya mau menanggapi permasalah yang pertama, yaitu dalam dunia Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis pendidikan merupakan suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan.
BalasHapussaya akan menjawab pertanyaan nomor 2.
BalasHapusJika guru menggunakan media berdasarkan kesukaannya sendiri maka akan berdapmak buruk bagi siswa diantaranya siswa sulit memahami apa materi pembelajarannya, serta siswa juga ada yang merasa diuntungkan dan dirugikan. jika guru tersebut menggunakan media yang sesuai maka siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya.
Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual.
Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
saya ingin mencoba menanggapi permasalahan kedua saudari mengenai “apakah akibatnya jika seorang guru menggunakan media pembelajaran berdasarkan sesuka dan kesenangan dia mengajar” menurut saya jika guru melakukan hal tersebut dan tidak sesuai dengan karakteristik siswa dan karakteristik materi maka pembelajaran tidak akan berlangsung seperti yang diharapkan dan akibatnya tujuan pembelajaran tidak tercapai.
BalasHapusSaya akan menjawab permasalahan Anda yang ketiga dimana pembelajaran yang kurang manusiawi INI dimaksudkan karena tenaga pengajar atau media yang di gunakan tidak lagi dilakukan langsung oleh pengajar atau manusiawi namun digantiaka dengan kecanggihan-kecanggihan teknologi yang dapat menggantikan sebagian peran dari pengajar tersebut
BalasHapusSaya akan menanggapi permasalahan no 2,, jika guru menggunakan media pembelajaran sesuka hatinya maka akan menimbulkan kebosanan siswa sehingga materi yang diajarkan tidak sampai kepada siswa dan akan menyebabkan tujuan pembelajaran yang diinginkan tidak akan tercapai.
BalasHapusSaya ingin mencoba menanggapi pertanyaan nomor 3. Menurut saya media digunakan untuk membantu bukan mengakibatkan pembelajarn bersifat kurang manusiawi.
BalasHapusdan media disini digunakan apabila pada proses belajar mengalami suatu hambatan
HapusSaya akan mencoba menanggapi permasalahan kedua, menurut saya jika seorang guru sesuka nya dalam memberikan media maka akan berdampak kepada keberhasilan belajar peserta didik. Karena jika media yang digunakan tidak menarik apalagi tidak sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, maka siswa tidak akan mengerti tentang materi yang diberikan.
BalasHapus